Jumat, 21 Oktober 2016

Untuk Desa

Arsitektur tidak melulu ‘membangun’.Memutuskan untuk tidak membangun pun arsitektur. Maksudku, deciding what not to do is as important as deciding what to do (Job’s).

Aku yakin, dulunya Jakarta tidak se-Jakarta sekarang.Pengap,sesak,penuh. Ia jauh meninggalkan desa-desa kecil yang tidak (atau mungkin belum) terbangun. Coba saja bandingkan, Jakarta yang sarat gedung-gedung menengadahkanmu dengan desa kecil,kecil saja, yang bangunan tertingginya paling hanya menara masjid. Ya, biarkan Jakarta atau kota besar lainnya semakin maju. Mereka tidak mungkin ditarik mundur dengan segelintir idealisme.

Aku tidak sedang mendebat Jakarta,karena bukan Jakarta yang ingin aku bahas. Aku memikirkan desa-desa kecil. Places I can’t even pronounce. Desa yang menjadi ‘rumah’,tempat ‘kembali’, tempat ‘melarikan diri’,nostalgia masa kecil,tempat mencium masakan ibu sore hari menjelang buka puasa, tempat bersua kembali dengan teman lama,dan segala-gala-gala-gala-nya.

Bayangkan bagaimana jika kamu ‘pulang’ dan bukan ‘rumah’ yang kamu temui. Kamu justru menemukan ubin hitam teras depan rumah sudah diganti dengan keramik printing yang membuatnya terlihat bukan teras depan yang sewaktu kecil jadi tempat minum teh bersama bapak. Pagar tanaman mangkuk yang me-logam. Bilik-bilik bambu yang menjadi dinding masif. Dapur tanah yang menjadi seperti dapur-dapur di acara demo masak di televisi. Atau bahkan rumah yang dulu selantai saja, sekarang seakan menyombongkan diri berlantai dua. Lalu apalagi yang berubah? Apalagi yang dihapuskan? Selain cerita masa kecil di rumah sederhana namun hangat.

Itukah keputusan atas nama pembangunan?

Membangun desa tidak berarti mengubah fisiknya. Karena sejatinya, mencerdaskan manusia pun bukan berarti memakaikannya baju seragam sekolah, tapi ‘memakaikan’ pengetahuan pada pemikirannya. Alih-alih demi kemajuan dan kemodern-an bangsa, tapi bangsa yang maju dan modern pun bukan bangsa yang memakai produk terbaru dari H&M atau Forever21.

Sama hal-nya dengan rumah di desa-desa kecil. Memajukan mereka bukan berarti membandingkan lalu mencampur adukkan mereka dengan rumah-rumah elite di kota besar. Semacam mencampurkan mozarela dengan sayur asem : terlalu memaksa demi gengsi.

Biarkan rumah-rumah sederhana itu tetap menjadi ‘rumah’. Biarkan rumah itu menyimpan cerita masa kecil setiap penghuninya. Berikan kesempatan kepada mereka yang rindu kampung halaman. Kita tidak akan dihina karena kita tidak tampil kekinian, kemungkinan terbesar kita akan dihina karena tidak tahu apa yang kita lakukan.Arsitektur dan arsitek tidak melulu mebangun gedung, berusaha untuk tidak membangun pun arsitektur. Bahkan jauh lebih bijak!


1 komentar:

Dika Maulana mengatakan...

Liat dashboard blogger dapet notif postingan ini. By the way welcome back sir!

Posting Komentar