Pages

Jumat, 21 Oktober 2016

Untuk Desa

Arsitektur tidak melulu ‘membangun’.Memutuskan untuk tidak membangun pun arsitektur. Maksudku, deciding what not to do is as important as deciding what to do (Job’s).

Aku yakin, dulunya Jakarta tidak se-Jakarta sekarang.Pengap,sesak,penuh. Ia jauh meninggalkan desa-desa kecil yang tidak (atau mungkin belum) terbangun. Coba saja bandingkan, Jakarta yang sarat gedung-gedung menengadahkanmu dengan desa kecil,kecil saja, yang bangunan tertingginya paling hanya menara masjid. Ya, biarkan Jakarta atau kota besar lainnya semakin maju. Mereka tidak mungkin ditarik mundur dengan segelintir idealisme.

Aku tidak sedang mendebat Jakarta,karena bukan Jakarta yang ingin aku bahas. Aku memikirkan desa-desa kecil. Places I can’t even pronounce. Desa yang menjadi ‘rumah’,tempat ‘kembali’, tempat ‘melarikan diri’,nostalgia masa kecil,tempat mencium masakan ibu sore hari menjelang buka puasa, tempat bersua kembali dengan teman lama,dan segala-gala-gala-gala-nya.

Bayangkan bagaimana jika kamu ‘pulang’ dan bukan ‘rumah’ yang kamu temui. Kamu justru menemukan ubin hitam teras depan rumah sudah diganti dengan keramik printing yang membuatnya terlihat bukan teras depan yang sewaktu kecil jadi tempat minum teh bersama bapak. Pagar tanaman mangkuk yang me-logam. Bilik-bilik bambu yang menjadi dinding masif. Dapur tanah yang menjadi seperti dapur-dapur di acara demo masak di televisi. Atau bahkan rumah yang dulu selantai saja, sekarang seakan menyombongkan diri berlantai dua. Lalu apalagi yang berubah? Apalagi yang dihapuskan? Selain cerita masa kecil di rumah sederhana namun hangat.

Itukah keputusan atas nama pembangunan?

Membangun desa tidak berarti mengubah fisiknya. Karena sejatinya, mencerdaskan manusia pun bukan berarti memakaikannya baju seragam sekolah, tapi ‘memakaikan’ pengetahuan pada pemikirannya. Alih-alih demi kemajuan dan kemodern-an bangsa, tapi bangsa yang maju dan modern pun bukan bangsa yang memakai produk terbaru dari H&M atau Forever21.

Sama hal-nya dengan rumah di desa-desa kecil. Memajukan mereka bukan berarti membandingkan lalu mencampur adukkan mereka dengan rumah-rumah elite di kota besar. Semacam mencampurkan mozarela dengan sayur asem : terlalu memaksa demi gengsi.

Biarkan rumah-rumah sederhana itu tetap menjadi ‘rumah’. Biarkan rumah itu menyimpan cerita masa kecil setiap penghuninya. Berikan kesempatan kepada mereka yang rindu kampung halaman. Kita tidak akan dihina karena kita tidak tampil kekinian, kemungkinan terbesar kita akan dihina karena tidak tahu apa yang kita lakukan.Arsitektur dan arsitek tidak melulu mebangun gedung, berusaha untuk tidak membangun pun arsitektur. Bahkan jauh lebih bijak!


Kamis, 28 Juli 2016

TUA

April kemaren gue officially 20 tahun.

20 tahun
(terbilang : dua puluh tahun)

Menjadi manusia 20 tahun diantara temen-temen kuliah seangkatan gue yang kebanyakan baru 19 atau bahkan 18 tahun adalah aib. Aib mugoladoh.

Dengan modal umur 20 ini, gua akan menjadi sangat rentan untuk dihujat oleh kaum muda.  Jadi kalo lagi ngumpul nih, apapun permasalahannya,apapun topik pembicaraannya,apapun becandaannya, ujung-ujungnya gue akan dikatain tua. Batuk dikit dikata faktor umur, salah liat dikit dikata udah rabun senja. Tidak ada celah untuk mengelak. Pasrah aja sambil senyum dengan wajah ingin menggampar. Di saat-saat seperti itu kadang gue berharap mereka mati dengan cara yang tidak wajar. Ketiban elpiji kek, kecolok garpu kek, atau yang lebih ekstrem : palanya keinjek Dawiyah.


FYI ini Dawiyah

Umur 20 tahun buat gue berarti menghindari percakapan-percakapan yang berbau ke-usiaan demi menyelamatkan martabat diri sendiri.  Gue selalu murka dengan percakapan semacam

“Eh lo tuh lahir 96 atau 97 sih?”
“Mmm…. 96”
“Bulan apa?”
“Ap…ril”
“NAJIS LU TUA BANGET WKWKWK”
Tuhan inikah mulut-mulut yang gak bismilah dulu….

Oke terlepas dari semua cercaan itu (drama sekali bukan), ada banyak hal yang mulai gue sadari dan gue pahami. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu belum terjawab, sekarang satu-satu mulai terjawab. Ada Oh-moment dimana keheranan masa kecil yang sekarang udah terjawab. Ada pembuktian dari kalimat bokap “Ntar kamu juga bakal ngerti kok” yang dulu berusaha menjawab pertanyaan gue. Ada keadaan dimana gue mulai menyadari ada hal yang kompleks dari yang sebelumnya gue kira itu hal sederhana.

Kalimat-kalimat gue barusan mungkin akan terdengar terlalu “pasaran” bagi kalian yang belum ngerasain, tapi percaya lah, kalimat-kalimat pasaran itu yang emang bener-bener bakal lu Oh-kan ketika lu mulai menyadari lu lebih tua dan dewasa.

Diumur segini juga gue merasa udah saatnya turning back ke keluarga. Meskipun gue belum sepenuhnya turning back, seenggaknya gue gak “sejauh” kayak waktu gue masih anak SMA, seenggaknya gue udah sadar untuk hal ini,dan senggaknya gue udah berpikir ke arah sana.

Menjadi tua dan dewasa juga ternyata gak seru ya. Semakin banyak hal yang mesti dipikirkan, semakin banyak yang mesti dipertanggung jawabkan, dan hal-hal sederhana juga jadi terasa lebih ribet karena pemikiran kita juga mulai terbuka lebar. Gue bisa aja pura-pura gak sadar umur, gue bisa aja mempersempit jalan pikiran gue biar berasa lebih enteng. Tapi kalimat “umur gabisa boong” tuh bener juga ya. Ujung-ujungnya gue harus nerima takdir kalo gue udah bukan anak kecil lagi, yaaa meskipun gue tau muka gue gak jauh-jauh amet sama Afika Oreo :)

Kadang gue males menjadi tua. Males menjadi rumit. Males ngadepin masalah. Males terbebani. Berharap bisa jadi anak kecil lagi yang beban terbesarnya paling cuma PR matematika. Enteng banget idupnya. Bisa menang cuma dengan modal egois. Modal nangis doang juga uda dapet yang lu mau. Coba sekarang gue pengen sesuatu terus nangis, paling digampar kulkas sama orang-orang. And ya.. now I understand why Peter won’t growing old.

BUT THE SHOW MUST GO ON, RITE?


Gue terima gue tua dan saatnya mendewasakan diri, tapi apapun yang terjadi gue gak bakal segan untuk melakukan hal apapun yang gue suka. Menurut gue, dewasa itu bukan tentang bagaimana kaos oblong berubah menjadi kemeja rapi yang dimasukan ke celana bahan, bukan tentang meninggalkan tontonan Spongebob di pagi hari dan beralih ke Headline News,dan bukan tentang memposting kata-kata bijak di social media.  Dewasa itu tentang bagaimana lu tetap terlihat dewasa meskipun gak pake kemeja rapi, tentang bagaimana lu mulai mengerti seutuhnya lelucon Spongebob dan Patrick, dan tentang bagaimana lu bertingkah bijak tanpa  perlu berkata bijak. Tsaaah . (Silahkan tepuk tangan) 

Btw gue baru sadar gue kayak ngarang bebas banget di paragraf terakhir. Bodo ah.

Sabtu, 16 Januari 2016

Rambut



Holaaholalaaaa miunlovers,miunista,miun-army,sahabat-miun dan miuners dimanapun kalian berada!!!! 

Setelah sekian lama gua gak nulis,akhirnya serpihan niat buat nulis di blog ini kembali muncul. Udah lama banget gak nulis. Terkahir gua nulis di blog ini sekitar bulan Maret 2013, itu kalo gak salah zaman lagi gencar-gencarnya Apriani Susanti nabrak orang,Rian Jombang ketangkep polisi dan masa kejayaan Manohara. (Omaygoaat Manohara apakabar ya?).

Terakhir gua nulis itu pas gua kelas 2 SMA, dan sekarang gua udah jadi mahasiswa mahaimut arsitektur semester 2 di Undip. Dulu gua pernah nulis di blog ini kalo gua sempet punya cita-cita kepengin jadi arsitek cuman waktu itu gua urungkan berhubung dulu bikin rumah di The Sims aja jatohnya malah kayak WC umum. Tapi nampaknya tuhan berkata lain. Mimpi gua perlahan mulai tercapai dengan status gua yang sekarang jadi mahasiswa arsitektur. LUAR BIASA BUKAN?!! Bukan..

Sekarang gua mau cerita tentang rambut.
Rambut gua.
Rambut gua yang keriting.
Keriting gak jelas.

Buat kalian yang belum pernah liat rambut gua, biar gua coba jelasin..

Gua sebenernya terlahir dengan rambut yang lurus. Sumpah, waktu gua masih SD rambut gua lurus selurus lurusnya. Dan entah kenapa semenjak gua puber,rambut gua jadi keriting gak jelas. Teori mana yg menjelaskan kalo puber bikin rambut lurus lo jadi keriting?!!!!.
Gua mencoba menerima kenyataan karena ternyata bokap gua dulunya juga keriting.  Tapi sekarang dia gak keriting. Gua makin bingung. Udah gausah dibahas.

Dulu gua gak pernah bangga punya rambut gak jelas kayak gitu. Karena rambut macem gitu ganggu banget. Gak bisa disisir, gak bisa dibagus-bagusin pokoknya. Gua sempet putus asa dengan keadaan seperti itu :’). Temen gua sempet nyaranin buat pake pomade biar rambut gua diem. Gua coba. Hasilnya LEBIH GAK JELAS LAGI. Rambut gua jatohnya malah kayak ketumpahan minyak goreng. Gua makin putus asa. Manohara bantu aku :’)

SMA, rambut gua potong pendek. At least dengan potong pendek, gua gausah bingung harus ngapain dengan rambut gua. Disaat temen-temen gua yang lain kejar-kejaran sama guru yang kerjaannya razia rambut panjang, gua tenang-tenang aja karena rambut pendek macem gua gaakan jadi incaran. *senyum kemenangan* *kibas poni* *lupa gak punya poni*

Keadaan berubah ketika gua masuk kuliah. Gua jadi males ke barber buat potong rambut. Soalnya di kuliahan lo gabakal kena razia rambut. Lagian tiap kali gua ke Barber gua selalu dikecewakan dengan hasilnya karena apa yang gua minta gak sama dengan apa yang abang barber tangkap. Jadi pernah waktu itu gua di barber,milih gaya rambut yang ada di catalog.

Diginiin bang!” gua nunjukin gaya rambut yang gua mau. FYI,  model di catalognya itu Zayn Malik. Jadi ekspektasi gua saat itu setelah potong rambut, gua akan berubah menjadi Zayn Malik yang sesungguhnya.
Oke” abangnya jawab dengan muka agak keberatan. Dengan muka yang kayak lagi mikirin negara. Mungkin dia keberatan dengan realita rambut gua yang saat itu kayak rambut kelamaan pake jeday.

Dan hasilnya? Sama sekali gak sama kayak yang gua minta.
Gak jelas.
Rambut gua malah kayak yang abis jatuh ke got.
Gua murka.
Gua geprek pala abangnya.
Gua kabur.
Gak bayar.
Abangnya koma 2 bulan.
Fix gua masuk neraka.

Sekarang udah 6 bulan gua gak potong rambut. Rambut gua udah kemana-mana. Mengembang dengan penuh rasa bangga. Mungkin kalo rambut gua kibas-kibasin, bakal ada kecoa,lemari,mesin cuci,nasi bungkus dan perabotan lain keluar dari rambut gua. Udah ada sejuta umat yang nyuruh gua potong rambut, tapi gua menolak. Aku lagi mau fokus dulu belajar :)))

Rabu, 20 Maret 2013

Pelajaran Penting Hari Ini


Gue kepikiran nulis ini tadi pagi di Ruang Tunggu di salah satu Rumah Sakit di tempat gue tinggal.

*mungkin lo nanya*

“Ngapain di rumah sakit un?”

BUKAN ! gue bukan lagi mau operasi sesar atau check usia kehamilan, tapi gue lagi nganter nyokap yang lagi gak enak badan mau periksa ke dokter di rumah sakit.

“Pagi-pagi nganter nyokap ke rumah sakit? Emang lo gak sekolah un ?”

Jadi ceritanya gue lagi libur seminggu berhubung anak kelas 12 lagi Ujian Sekolah. Sekalian juga disini gue mau ngucapin Selamat Berjuang buat kakak-kakak kelas 12 yang lagi ngadepin soal-soal US yg katanya tingkat kesulitannya melebihi tingkat kesulitan melahirkan bayi kembar 50. 

“Lo ke Rumah Sakitnya pake apaan un?”

BUKAN URUSAN LO!


Waktu itu gue pertama kalinya nganter nyokap ke Rumah Sakit. Gue baru tahu ternyata Rumah Sakit sama pasar lelang ikan beda tipis men ! Gila,pas gue masuk dari mulai kakek-kakek nyampe anak kecil segede upil pun ada berkeliaran. Gue coba memaklumi, namanya juga tempat umum, dan wajarlah banyak orang berobat ke rumah sakit karena yg gue tahu sekarang ini musim peralihan antara musim hujan sama musim kemarau, jadi banyak tubuh yang lagi menyesuaikan diri dengan pergantian musim. Yang berhasil menyesuaikan, ya sehat. Dan buat yg kurang berhasil menyesuaikan, ya itu derita lo : sakit. Sama kayak cinta, ketika lo berusaha move on dari satu hati ke hati yang lain dan lo bisa menyesuaikan, ya lo bakal “sehat”. Tapi ketika hati lo gagal “menyesuaikan diri” dengan peralihan hati tersebut, ya itu derita lo : “sakit”.

Sementara nyokap gue lagi ngurusin administrasi buat berobatnya, gue duduk santai di kursi ruang tunggu. Walaupun santai, gue tetep harus waspada karena gue tau  di sebelah gue ada kakek-kakek yang batuk (dan entah kenapa batuknya seolah-olah diarahkan ke muka gue yang maha-imut ini). Di samping kanan gue ada anak kecil yang lagi nangis gak berhenti-berhenti. Nangisnya kenceng banget, saking kencengnya anak itu nangis, harga bawang jadi naik. Entah apa hubungannya pemirsa...

Dibelakang gue ada banyak cewek-cewek. Jadi gue dikelilingi cewek-cewek nih ceritanya. Sayangnya mereka udah lanjut usia.
Ada beberapa tante-tante di belakang gue yang lagi ngerumpi. Mereka keliatan sehat-sehat aja. Mungkin mereka lagi nganter anaknya/suaminya yang sakit, atau mungkin gak ada tempat lain buat ngerumpi lagi jadi mereka ngerumpi di ruang tunggu rumah sakit.

Berhubung gue gak ada kerjaan dan gue bete dikelilingi orang-orang yang gak jelas,gue mikir mau ngapain disitu. Gak mungkin gue ikut ngerumpi sama tante-tante di belakang gue, atau gue ikut nangis sama anak kecil disamping gue atau yang paling parah gak mungkin gue maen tampar-tamparan sama kakek-kakek sebelah gue. Akhirnya gue mutusin buat keluar ruangan dan nyari udara sejuk di luar. Gue diem di tempat parkiran dengan muka memelas. Tapi gue berusaha buat nunjukin muka gak-memelas gue, karena gue khawatir akan ada crew RCTI yang nyangka kalau gue penderita bibir sumbing yang akan masuk ke acara Peduli Kasih RCTI.

Gue duduk di motor sambil twitteran. Disamping gue ada bapak-bapak berkumis yang sama lagi duduk sambil merokok. Agak kesel juga, bapak-bapak itu tiap kali ngeluarin asap rokok dari mulutnya, itu pasti seolah-olah diarahkan ke muka gue. Maksudnya apa? GUE BUKAN NYAMUK MALARIA WOY !

Gue gak tahan dan gue mutusin buat pergi dari parkiran itu daripada gue harus mati perlahan disembur asep rokok dan gue gak mau dianggap nyamuk malaria. Mungkin bapak-bapak disebelah gue tadi itu gak mengharapkan kehadiran gue disitu, mengganggukah atau apalah. Sama kayak cinta, ketika dia udah ngirim kode-kode yang nunjukin dia gak nyaman sama lo, yang mesti lo lakuin adalah menghindar, daripada lo “mati perlahan” dengan “semburan asep” dia buat nyingkirin lo.

Gue balik lagi ke ruang tunggu rumah sakit itu sambil berharap beberapa orang yang ada disekeliling gue tadi udah pulang. Dan pas gue nyampe di ruang tunggu,ternyata orang-orang tadi masih ada. Gue pasrah karena gak mungkin gue menyingkirkan atau ngusir mereka, yang ada gue di gebukin orang se-Rumah Sakit.

Gue duduk di posisi yang sama kayak tadi, di samping kakek-kakek sama anak kecil dan didepan tante-tante tentunya. Gue bingung mau ngapain, dan akhirnya gue mutusin buat dengerin musik. Tadinya gue mau nyetel musik keras-keras dari hape gue, cuman gue gak mau nanggung resiko di banting kursi roda  sama dokter disana dan gue gak mau dibilang alay. Karena gue tau , orang alay bakal nyetel musik sekeras mungkin dari hapenya di tempat umum biar keliatan kalo dia itu gaul dan tau lagu-lagu yang lagi hits. Gue dengerin musik pake headset, biar gak ganggu orang lain, biar gak dibilang alay dan biar gak di banting kursi roda.

Gak lama gue nyetel musik, ibu-ibu sebelah gue yang gendong anak kecil yang lagi nangis itu tiba-tiba nepuk pundak gue dan nanya,

“Kamu kok dengerin musik?” dengan nada penuh keibuan.

“Loh emangnya kenapa bu? Abisnya gak ada kerjaan bu ya mending dengerin musik” gue jawab nyantei.

“Kamu tahu ini tempat apa?” pertanyaannya mulai memojokan gue.

“Tahu, rumah sakit kan bu?” gue jawab dengan muka datar.

“Seharusnya kamu peka, orang-orang disekitar kamu itu lagi sakit, kenapa kamu malah dengerin musik?” Ibu itu nanya dengan tatapan mata sinetron.

“Loh emangnya kenapa bu? Saya kan gak ganggu orang-orang disini. Lagipula apa ruginya orang-orang disini kalo saya dengerin musik pake headset?” karena gue merasa gak salah, gue berargumen buat bela diri.

“Iya,kamu memang gak ganggu orang-orang di sekitarmu, tidak ada yang rugi dengan kamu dengerin musik. Tapi coba berfikir kembali, coba lebih peka, ini tempat orang-orang yang lagi sakit, yang lagi menderita. Sementara kamu yang sehat seolah-olah mengabaikan orang-orang sekitarmu. Kamu boleh dengerin musik, tapi pada tempatnya. Dan ini bukan tempat yang cocok buat dengerin musik”

-JLEB-

Spontan, musiknya gue matiin, headsetnya gue masukin ke saku celana dan gue diem. Gue mikir. Iya juga ya, kenapa gue seolah-olah gak peka dengan lingkungan sekitar gue. Seolah-olah gue gak peduli dengan kondisi sekitar gue. Pelajaran penting dan berharga gue dapetin dari ibu-ibu itu.

Peka. Segala hal butuh kepekaan. Kita bisa respect dan tahu perasaan orang kalo kita peka terhadap orang itu. Tanpa kepekaan, kita seolah-olah seperti orang bodoh yang gak ngerti apa-apa. Seolah-olah kita mengabaikan orang sekitar. Seolah-olah kita gak respect terhadap orang-orang sekitar. Tapi jangan terlalu peka, ntar lo bisa sensitif. Sama seperti tumbuhan putri malu yang terlalu peka dengan stimulus disekitarnya, ketika dia sedikit tersentuh dia bakal “ciut”. Lo gak boleh kayak putri malu, ketika lo terlalu peka terhadap suatu hal, kepekaan itu yang bakal bikin lo sensitif, yang bakal bikin lo “ciut”. Tapi lo gak boleh kayak gue yang mungkin kurang peka. Tapi setidaknya terhitung detik ini gue bakal mencoba belajar lebih peka. Banyak pelajaran yang gue petik hari ini, dan gue masih berharap akan ada “ibu-ibu” yang lain yang ngasih gue pelajaran berharga yang bisa bikin gue berubah.


"Pekalah,tapi jangan terlalu peka" - miun

Senin, 21 Januari 2013

Love Makes You Weird


Akhirnya.. setelah hampir beberapa bulan gue gak muncul di blog ini,  gue bisa kembali ngumpulin serpihan niat gue buat nulis di blog. Banyak sekali alesan kenapa gue jadi jarang nulis, terutama perubahan status gue dari anak SMP menjadi anak SMA. Tapi tenang saja, perubahan SMP ke SMA tidak mempengaruhi kadar kegantengan gue yang disinyalir mampu membunuh satu populasi gajah di Sumatra. 

Cinta buat lo jadi aneh. Memang benar. Gue setuju. Dan gue juga pernah melakukan hal-hal aneh yang seharusnya tidak gue lakukan tapi entah kenapa gue lakukan juga. Pernah waktu itu gue nganter temen gue beli kado buat pacarnya yang lagi ulang tahun. Karena emang waktu itu gue lagi gak ada kerjaan, yaudah gue iya-kan saja permintaan temen gue itu. Satu hal yang gue gak tahu adalah ternyata dia beli kado ke toko aksesoris cewek yang mustahil ada cowok di dalem toko itu. Sampe di depan pintu toko aksesoris itu gue berasa tidak berharga banget, bagaimana bisa 2 orang cowok masuk ke toko aksesoris cewek. Gue takut kita disangka pasangan sejenis yang lagi belanja bareng. Horror banget men.

                “Lo yakin mau masuk toko ini? Harga diri kita mau ditaroh dimana?!!” gue berusaha menyelamatkan harga diri gue yang akan segera jatuh ketika gue masuk ke toko aksesoris cewe itu.

                “Gue yakin. Kalo kita masuk ke toko ini dan seisi toko liatin kita, tenang aja, mereka gak tahu kita siapa,dan kita gak tau siapa mereka” Temen gue ini berusaha meyakinkan gue.

Karena gue pikir bener juga ngapain gue malu sama cewek-cewek yang ada di toko itu, gue pasrah nurutin apa kata temen gue.

Kita masuk ke toko itu perlahan tapi pasti. Dan ketika masuk... JLEB. Semua orang liatin gue sama temen gue. Harga diri gue sukses jatuh. Waktu itu gue sempet berpikiran buat pura-pura amnesia berharap orang-orang seisi toko memaklumi keamnesiaan gue dan tidak menganggap gue mau ngondek belanja aksesoris. Gue akan pura-pura amnesia dengan bilang “INI DIMANA?!!” “GUE SIAPA?!!!” “KALIAN SIAPA?!!” kemudian gue akan melesat keluar toko dengan selamat. Hanya saja ide mahadahsyat itu harus gue urungkan berhubung ternyata ada temen sekelas gue yang lain lagi berdiri diluar toko aksesoris itu. MAMPUS. Kalo gue keluar toko dan temen gue yg lain itu liat gue keluar dari toko aksesoris cewek, maka dapat dipastikan kata-kata :  “EH LO TAU GAK SEEEEEH SI MIUN KEMAREN KELUAR DARI TOKO AKSESORIS CEWEK. YAAMPUN TERNYATA DIA NGONDEK JUGA” bakal keluar dari mulutnya besok kalo emang kejadian ini bener-bener terjadi. Akhirnya gue memutuskan untuk mempermalukan diri sendiri di dalam toko dengan ngikutin temen gue yang udah dari tadi nyari-nyari barang yang pas buat dijadiin kado. 

“Eh liat cincin ini kayaknya bagus buat pacar gue. Menurut lo gimana?” dia berusaha nunjukin cincin yang dia pilih ke gue.

“APA?!  CINCIN OM-OM  ITU MAU LO KASIH KE CEWEK LO?!” Gue kaget ngeliat cincin dengan batu permata agak besar. Yang gue tau itu cincin yang biasa dipake om-om stres.

“KURANGAJAR LO ! Ini cincin yang lagi trend ! ini cincin ala Syahrini. Kalo cewek gue pake cincin ini pasti dia bakal keliatan seperti titisan Syahrini yang cetar mebahana badai tornado halilintar korak-korak kincir poci poci istana boneka” . Gue heran sebenernya itu titisan syahrini atau titisan dufan?!.

“terserah lo” muka gue semakin ganteng pasrah.

Setelah temen gue dapetin apa yang dia cari, kita ngantri di kasir buat pembayaran. Karena waktu itu tokonya agak ramai,jadi pas di kasir agak antre. Gue cuman nunggu temen gue sambil liat-liat barang di toko itu. Dan gue kaget pas gue liat ke etalase boneka,  ada 2 cowok disana. Gue gak mau suudzon. Gak mungkin mereka lagi unyu-unyuan berdua belanja boneka. Gue samar-samar denger percakapan mereka. Dan ternyata mereka juga sama kayak gue dan temen gue. Mereka lagi nyari kado buat ceweknya. Pikiran gue lega, karena 1) ternyata ada cowok-cowok lain juga yang lagi belanja di toko itu dan 2) ternyata mereka bukan homo.

Perlu diketahui, ternyata mereka lebih kreatif daripada gue sama temen gue. Kenapa? Mereka masuk toko itu pake helm fullface sehingga mustahil ada orang yang tau muka asklinya kayak gimana. KAMPRET KENAPA GUE GAK KEPIKIRAN DARI TADI . Kemudian gue berasa hina kembali.

Dari cerita itu gue bisa tarik kesimulan bahwa emang cinta bisa bikin orang bertindak apapun agar orang tersebut bisa membahagiakan orang yang dicintainya. Contohnya temen gue dan 2 cowok ber-helm itu, mereka rela masuk toko aksesoris cewek demi orang yang mereka cintai. Dalam keadaan semestinya, mana mungkin mereka mau masuk toko aksesoris cewek kalo bukan karena pacarnya itu. Tapi yaaa itulah cinta, it makes us weird.

“Tidak ada yang bisa memaksa seorang cowok untuk masuk ke toko aksesoris cewek,selain demi  orang yang dicintainya” - miun